SEAKAN sudah jamak setiap hari menghirup udara Jakarta yang selalu bercampur debu tebal dan asap knalpot, ditambah panasnya terik matahari yang menyengat. Apalagi kondisi seperti ini terjadi setiap hari di ibukota, pedagang asongan dan peminta-minta berkeliaran di sepanjang sudut jalan kota. Udara di Jakarta Utara memang sangat berbeda dengan Jakarta lainnya. Maklumlah aku tinggal di daerah yang terkenal dengan banyak pantai, panas sudah menjadi hal biasa bagi penduduk di daerah pesisir.Terutama pada mobil-mobil besar pengangkut barang, atau biasa disebut dengan Container yang selalu ada di jalan raya. Pemandangan yang selalu kulihat setiap hari ketika berangkat dan pulang sekolah.Belakangan ini juga banyak peristiwa yang tak diduga-duga terjadi. Mulai dari berita peristiwa dalam negeri sampai mancanegara, yang menggemparkan. Dari dalam negeri sendiri adalah peristiwa yang baru-baru ini terjadi, yaitu amblasnya sebuah jalan raya menuju Ancol, Jakarta Utara. Sedangkan berita mancanegara adalah peristiwa 11.9 mirip sebuah judul buku tentang peristiwa, yang sudah lama ditulis oleh seorang penulis asal Jerman Mathias Brockers. Dan judul buku tersebut sama dengan tanggal, mengenai pembakaran Al-Qur’an, kitab suci agama Islam.
Suasana makin bergeming saat aku, Aura Aulia (Ara) gadis berusia 16 tahun sedang membaca berita-berita di koran. Aku tertegun, teringat kejadian yang menimpa ibu. Kecelakan naas itu terjadi ketika ibu (Alm Hanna) hendak pergi ke daerah Marunda, Jakarta Utara. Ibuku Hanna sedang berkunjung ke rumah pak Husein, seorang laki-laki paruh baya yang tak lain adalah kakek kandungku.Setelah berpamitan untuk pulang, ibuku ternyata mengalami kecelakaan. Ia tertabrak sebuah mobil besar pengangkut barang. Seluruh tubuhnya remuk, darahnya mengalir deras bahkan satu matanya hilang.Seluruh keluarga tak bisa membendung air mata. Terutama bagiku yang sangat dekat dengan ibu. Aku merasa tak punya semangat untuk hidup tanpa ibu, karena aku anak yang sangat manja dan penurut sehingga ibu sering kali tak membolehkanku untuk bermain terlalu jauh. Berbeda dengan kakak perempuanku Indira Imandara (Dira) ia agak sedikit pembangkang, dan selalu iri denganku. Meski peristiwa pahit itu sudah satu tahun berlalu, namun bagiku dan kak Indira kejadian itu baru terjadi kemarin. Kemarin sore, saat sinar dari barat mulai tertelan oleh datangnya malam. Sampai kapan pun peristiwa itu tak akan kulupakan dalam benakku. “Ibu! Ibu!” Aku berteriak-teriak memanggil ibu di dalam rumah. Seperti orang gila saja aku ini, rasanya sulit sekali mengendalikan emosi.Kak Indira yang mendengar suara isakan tangisanku, segera menghampiri. Mimik wajahnya terlihat kesal, wajahnya memancarkan aura tak menyenangkan. “Ibu sudah mati! Jadi jangan sebut-sebut namanya lagi.” kata kak Indira dengan suara menggelegar, seraya berlalu meninggalkanku. Semenjak kematian ibu, sikap kak Indira padaku semakin semena-mena. Ia sering kali tak memberikan uang saku sekolah, padahal gajinya lebih dari cukup. Selain itu kak Indira, jarang sekali pulang ke rumah.Perlakuan kak Indira tak seperti layaknya seorang kakak kandung, semua pekerjaan rumah akulah yang mengerjakannya. Mulai dari mengepel rumah, menyapu, mencuci piring, mencuci baju, sampai membereskan kamar tidurnya pun harus aku. Terkadang kakak mempunyai panggilan khusus untukku, yaitu jibir-jibir (Teledor dan jorok).Sekarang aku bahkan tak memiliki perisai yang selalu ada di dekatku. Sebelumnya aku juga sempat tinggal dengan kakek, tapi kakek harus menutup usia. Ia meninggal karena faktor usia. Hidupku menjadi tak menentu, dulu tubuhku gemuk. Tapi sekarang aku nampak kurus.“Bereskan semua pakaianmu dan taruhlah ke dalam tas ini!” ia melempar sebuah tas berukuran besar, tas itu biasa aku pakai saat pulang kampung.“Untuk apa?” kataku menatap lurus ke mata kak Indira.“Jangan banyak tanya?!”Aku tak berani berontak, melihat matanya membesar rasanya tubuhku tak bisa berkutik lagi. Berapa menit berlalu, aku yang baru saja selesai memasukkan semua pakaianku ke dalam tas biru. Harus dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki tua bertubuh besar dan tinggi, wajahnya nampak begitu asing. Aku tak pernah melihatnya, tapi untuk apa ia datang ke rumah ini.“Kak Indira, siapa dia?” Tak ada kata yang terlontar dari mulutnya, dia hanya tersenyum. Tetapi aku melihat sebuah senyuman ketir diwajahnya, senyum yang menakutkan. Kakak langsung menarik lenganku, dan membawaku ke hadapan lelaki itu.“Ini dia...” Lekaki tua itu berhenti menghisap rokoknya. Ia bangkit sedikit meluruskan punggungnya, tanpa berkedip sedikit pun dari wajahku. Tubuh gemetar, rasa takut dan bayangan buruk terngiang-ngiang dalam benakku.Kepalaku tertunduk tak berani melihat matanya, lelaki itu menepuk pundakku. Ia terus menatapku, lalu tertawa. Aku tercengang jantungku berdetak kencang.“Gadis yang manis...” aku tersentak, terkejut akan pernyataan itu. Kak Indira mendekatiku, dan membisikkan sesuatu“Kamu, akan tinggal bersamanya.”“Apa?” aku melepas genggaman tangan kak Indira. Berlari menuju kamar, tetapi ketika ingin menyentuh pintu kamar. Kakak menarik lenganku, aku berusaha mempertahankan tubuhku agar tak terbawa olehnya. Tapi yang terjadi tubuhku malah terjatuh, ia menjulurkan lengannya dan membangunkanku.“Dia ayahmu... jadi kamu harus tinggal dengannya. Hidupmu akan jauh lebih terjamin, kalau tetap tinggal bersamaku kamu akan jadi gila!” aku tak mengerti maksud perkataannya, mana mungkin dia ayahku. Yang aku tahu ayah sudah meninggal, empat tahun lalu.“Kakak bohong, pasti dia orang yang ingin membeliku. Kakak ingin menjualku, dan kakak juga tahu aku tak mau mengikuti orang asing. Sekarang kakak mengarang cerita, dengan mengatakan dia ayahku.” Hardikku, ini pertama kalinya aku berkata dengan nada meninggi.Sebuah tamparan nyaris menyentuh pipiku. “Ayahku sudah mati, tapi ayahmu belum.”Kak Dira menarik tanganku, tanpa menjelaskan perkataanya yang terakhir. Lelaki itu sudah berada di dalam mobilnya, aku semakin takut.“Masuk ke dalam mobil!” ucapnya pelan, lelaki di dalam mobil itu tersenyum lebar.“Kak!” kak Dira tak memperdulikanku, ia menutup pintu mobil. dan masuk ke dalam rumah untuk mengambil tasku yang sudah berisi pakaian.Sebelum mesin mobil sedan berwarna putih itu dinyalakan.
Dari jendela mobil yang terbuka kak Indira menggenggam tanganku, matanya tak terlihat sebuah kebencian lagi. Supir lelaki itu, langsung menginjak pedal rem dan pergi dari rumah ibu. Aku enggan meninggalkan rumah yang menjadi kenangan manis bersama ibu dan tentu saja ayahku. Bagaimana mungkin kak Dira mengatakan kalau lelaki ini adalah ayahku.Langit makin mendung. Aku tak bisa berpikir jernih, aku merasa kakak adalah orang yang paling jahat. Ia pasti menjualku pada lelaki ini, kakak tak pernah sayang padaku.“Umurmu 16 tahun!”Aku mengangguk. Bulir-bilir air mata menetes di pipiku. Ia mencoba menghapus air mataku, tapi aku menghadangnya.“Jangan menangis. Wajah manismu tak terlihat lagi sekarang."“Memangnya kamu siapa, melarangku menangis. Ini kan airmataku sendiri. Aku nggak memintanya darimu kan?” ucapku kesal.Tiba-tiba lelaki itu tertawa. Ia terus tersenyum padaku, lagi-lagi aku hanya tertunduk.“Maaf, aku tak bermaksud berkata kasar.”Perjalanan terasa sangat membosankan, suasana di dalam mobil menjadi hening. Ketika ia sedang engah, aku memperhatikan wajahnya. Apa yang dikatakan kak Dira itu benar! Dia ayahku? Hidung, matanya yang besar. Tak begitu mirip denganku, mungkin kak Dira hanya mengarang.Beberapa jam kemudian, mobil sedan ini berhenti di depan sebuah gerbang rumah. Rumah yang sangat besar, pandanganku juga tersita pada rumah itu.“Ayo kita keluar,” bunga-bunga anggrek yang sedang bermekaran, seakan menyambut kedatanganku. Lelaki itu membawaku masuk ke dalam.
Nuansa seni terasa sekali di dalam rumahnya, lukisan-lukisan penari dari seluruh daerah di Indonesia tergantung rapi di setiap dinding. Juga terdapat patung-patung yang terbuat dari kertas koran, dan dicampur dengan batu bata yang dihancurkan.Aku menyisiri setiap ruangan yang ada di rumah ini, tapi dari tadi aku hanya melihat lukisan dan patung. Ada sebuah patung, mirip Patung David karya Michaelangelo. Tapi bedanya patung ini memakai baju dan bukan laki-laki. Patung ini mirip sekali dengan...“Kamu pasti tahu siapa patung itu.”“Aku... patung itu mirip wajahku.”Lagi-lagi ia hanya tertawa. Aku kesal sekali melihat pola hidupnya, rupanya ia menghabiskan waktu hanya untuk membuat patung dan melukis. Tapi apa semua ini ia yang mengerjakannya. Entahlah...“Apa bapak yang membuat lukisan dan patung ini?” aku mencoba bertanya, meski sedikit ragu dengan jawabannya.“Nggak semua! Aku dibantu oleh adik laki-lakiku.” Ia pun pergi dari hadapanku.“Tunggu! Aku ingin bertanya, apa bapak ayah saya?”Ia memutar kembali tubuhnya ke hadapanku, lalu kedua lengannya menepuk pundakku. Sedikit kuperhatikan rupanya ia senang sekali menepuk pundakku.“Ya. Saya memang ayah kamu. Kamu sudah tahu, jadi saya nggak usah menjelaskannya lagi.”Bapak itu hanya tersenyum, ia memberikan jawaban yang sebenarnya bukan jawaban seperti itu yang kumau. Aku nampak bingung sejenak, lalu ia memintaku untuk melanjutkan langkah ke ruang berikutnya.Ruangan itu nampak seperti kamar, seperti biasa banyak sekali lukisannya.“Ini kamarmu! Masuklah ke dalamnya,” aku tertegun. Lalu bapak yang sedari tadi belum kutahu namanya, pergi dari hadapanku menuju ruang belakang.Tiba-tiba seorang laki-laki berkepala botak masuk dalam ruangan, yang sekarang menjadi kamarku. “Kamu anaknya kak Rahmat yah! Selamat datang, aku adiknya.”“Rahman,” kataku lirih, ia adalah adiknya pak Rahmat. Kejutan apa lagi ini. Ia temanku sewaktu SMP yang sudah pindah sejak kelas dua, dan sejak itu tak ada kabar lagi. Aku juga harus tercengah oleh keadaannya sekarang. Ia menggunakan kursi roda, lalu di mana kedua kakinya.“Kakimu?” ia tersenyum, senyum yang mirip sekali dengan kakaknya pak Rahmat.“Aku telah kehilangan kedua kakiku. Dua tahun yang lalu kakiku terpaksa harus di amputasi setelah aku mengalami kecelakaan. Kedua tulang kakiku hancur. Sekarang kakiku hanya sampai dengkul saja. Dan hidupku sekarang bergantung pada kursi roda. Jangan ditanya bagaimana hancurnya aku saat itu.” Aku bisa merasakan pahitnya kehilangan sesuatu, tapi kenapa ia tak menunjukkan hal itu. Aku kehilangan ayah dan ibu bagaikan kehilangan kedua kakiku, tapi ia yang benar-benar sudah kehilangan kedua kakinya tetap tersenyum selebar itu.“Kenapa setelah kecelakaan itu, kamu nggak kasih kabar. Atau...”“Ketika itu aku malu, aku merasa tak ada satu orang pun menerima keadaanku sekarang. Mungkin teman-teman tak mau lagi berteman denganku. Tapi aku tahu, sekarang aku tak malu dengan kondisiku”“Apa? Picik sekali pikiranmu? Apa kamu pikir karena kamu duduk di kursi roda maka aku dan yang lain tak mau lagi berteman denganmu?”“Itu kan dulu, sudah jangan marah padaku. Aku senang ternyata kamu adalah keponakanku,” ujar Rahman pelan.“Memangnya aku ini anaknya yah?” balasku sedikit bertanya. Rahman hanya mengangkat kedua bahunya, ia sama anehnya dengan kakaknya. Apa mereka sudah ada perjanjian, jadi setiap aku bertanya tak lain hanya tersenyum.Tak berapa lama Rahman berlalu, aku segera berganti baju. Setelah berganti baju, aku membiarkan tubuhku terenyak di atas ranjang kayu, ranjang yang berukir batik.
Sejenak aku memejamkan mata, tapi mataku tak bisa menutup. Imajinasiku melayang ke sebuah harapan yang selalu kuinginkan, yaitu aku ingin ayah dan ibu kembali, dan sebuah harapan baru mengetahui siapa pak Rahmat. “Kalau benar ia ayahku...” anganku mengawang, tiba-tiba senyum sendiri.Pagi harinya cuaca sangat cerah sekali, aku berangkat ke sekolah. Sebuah sedan putih sudah bersiap mengantarkanku. Tetapi saat pulang sekolah cuaca kali ini berbeda dari sebelumnya, langit tampak gelap. Aku pulang sekolah lebih awal, jadi supir pak Rahmat tak menjemputku. Tak banyak orang berlalu lalang sekarang. Aku memandang ke atas dan samar mendengar suara petir. Aku tahu sebentar lagi akan turun hujan, tapi aku terus melangkah. Tak peduli kendala apa yang akan kulalui dalam perjalananku menuju rumah. Tak lama tubuhku pun diguyur hujan. Sementara orang-orang mencari tempat berlindung, aku terus berjalan, mencari angkutan umum.Akhirnya aku sampai ke rumah pak Rahmat, keadaan di sini sangat kering. Berbeda di daerah sekolahku.“Assalamualaikum!” ucapku lemas, rupanya air langit itu membuat tubuhku menggigil. “Waalaikumsalam, Ara. Kamu kehujanan, jangan pulang kalau masih hujan.” Pak Rahmat menjawab salamku, dan memintaku untuk segera mengganti baju yang basah.Setelah aku mengganti baju, ia membawakan segelas susu. “ Nggak usah repot-repot, aku bisa membuatnya sendiri.” “Nggak apa-apa. Ayah senang kok!” Ayah! Rasanya canggung sekali, aku mendengar kata itu darinya. Sesungguhnya ia orang yang sangat baik, walaupun aku baru mengenalnya. Tapi entah kenapa aku belum mau menyebutnya ayah, ia hanya orang asing dan mungkin akan menjadi asing untukku.“Istirahatlah.."Ia menutup pintu kamar, sambil tersenyum ramah. “Ayah, hahaha!” Aku tak pantas menerima bantuannya setelah apa yang kupikirkan tentangnya. Meski perlakuan bapak itu sangat baik, aku masih belum mengerti kenapa ia ayahku. Tiba-tiba aku teringat pada kak Dira, kalau aku anak pak Rahmat seharusnya kakak tinggal bersamaku juga. Dan pada perkataanya ia pernah berkata kalau ayahnya sudah mati, tapi ayahku belum.“Aku harus tahu kenapa kakak berkata seperti itu.”Senja terkapar menurun diganti malam bertabur bintang di sela-sela awan. Rasanya malam ini udara berbau manis dan segar, pasti asyik sekali jalan-jalan ke pantai ancol. Mendengar deburan ombak yang bernyanyi, juga suasana hening di tengah keramaian.Keesokan harinya, aku berniat untuk mengunjungi kak Dira. Sebelum itu aku juga harus berpamitan pada pak Rahmat. Setelah mendapat izin darinya, segera kulangkahkan kakiku untuk menemui kakak. Tadinya pak Rahmat meminta supirnya untuk mengantarkanku, tetapi aku menolak dengan alasan tentu saja tak mau merepotkan.Seorang wanita berdiri di halte, perawakannya mirip sekali dengan kak Dira. Semakin dekat kuperhatikan ternyata itu memang kakak. Rupanya ia sedang menunggu angkutan umum. “Kak Dira,” Ia sempat menolehkan tubuhnya, tapi ketika melihatku ia langsung mempercepat langkahnya dan pergi meninggalkan halte. Untungnya aku dapat mengejar kak Dira yang tak terlalu jauh, kuraih lengannya dan langkahnya pun terhenti.“Kakak tunggu, jangan pergi!” pekikku.Wajah kak Dira sangat lusuh, ia seperti kelelahan dan jarang tidur. Lingkar hitam di bawah matanya begitu terlihat. “Mau apa?” ucapnya pelan. Mobil dan motor di jalan raya sekonyong-konyong berhenti. Lampu merah! Pikirku. “Kakak, kalau pak Rahmat adalah ayahku bukankah itu juga ayahmu. Kenapa kakak nggak ikut tinggal bersamaku?” Kak Dira tertawa, tawa yang sangat keras. “Apa kamu pikir mereka adalah orangtuaku...” Aku terdiam, apa yang dikatakannya aku benar-benar tak mengerti. Mereka! Apa yang kakak maksud adalah ibu dan pak Rahmat. Sejenak aku berpikir, mungkinkah ibu dan pak Rahmat bukan orangtuanya. “Apa ibu dan pak Rahmat bukan orang tuamu.” “Yeah!” “Lalu, kalau bukan ibu dan ayah atau pak Rahmat. Siapa orang tua kakak?” Lagi-lagi ia hanya tertawa. Tapi kali ini ia tak tertawa lepas, terlihat ada kesedihan yang disembunyikan.“Kedua orangtuaku tuna rungu, mereka menitipkanku pada ibu. Ayah yang kamu kenal adalah kakak laki-laki ibu, dan pak Rahmat itu hanya ayahmu bukan ayahku. Maka dari itu ibu teramat sayang padamu...”Aku menatap mata kak Dira. Nampak aku mencari kebohongan di mata kakak. Tidak ada, yang ada hanya kejujuran yang ada di matanya. Mataku berkaca-kaca. "Terima kasih," ucapku tersendat menahan haru. “Untuk apa?” aku menggeleng, dan pergi dari hadapan kak Dira. Hari ini udara terasa sejuk, matahari bersinar sangat terang. Berjalan di bawah panasnya terik matahari serasa berjalan di bawah pohon yang rindang.Sekarang hatiku tak lagi mencari dan bertanya...Aku tahu apa yang kakak rasakan selama ini, kenapa ia begitu iri padaku. Ia bukan orang yang jahat, ia memperkenalkanku pada ayah secara tiba-tiba. Hanya saja ia ingin melihat kehidupanku bahagia. Kalau aku terus tetap tinggal bersamanya, aku makin terpuruk karena bayang-bayang ibu semakin menghantui otakku. Dan aku juga tak pernah tahu siapa ayahku sesungguhnya.Tanpa terasa aku berjalan cukup jauh, sampai-sampai aku tak mengenal waktu. Kulihat mega di langit sudah bermunculan sangat tebal. Meski senja sudah menghadang di barat, matahari mulai menatap nanar. Namun sinarnya masih ingin tetap menyentuh bumi.
Dari jendela mobil yang terbuka kak Indira menggenggam tanganku, matanya tak terlihat sebuah kebencian lagi. Supir lelaki itu, langsung menginjak pedal rem dan pergi dari rumah ibu. Aku enggan meninggalkan rumah yang menjadi kenangan manis bersama ibu dan tentu saja ayahku. Bagaimana mungkin kak Dira mengatakan kalau lelaki ini adalah ayahku.Langit makin mendung. Aku tak bisa berpikir jernih, aku merasa kakak adalah orang yang paling jahat. Ia pasti menjualku pada lelaki ini, kakak tak pernah sayang padaku.“Umurmu 16 tahun!”Aku mengangguk. Bulir-bilir air mata menetes di pipiku. Ia mencoba menghapus air mataku, tapi aku menghadangnya.“Jangan menangis. Wajah manismu tak terlihat lagi sekarang."“Memangnya kamu siapa, melarangku menangis. Ini kan airmataku sendiri. Aku nggak memintanya darimu kan?” ucapku kesal.Tiba-tiba lelaki itu tertawa. Ia terus tersenyum padaku, lagi-lagi aku hanya tertunduk.“Maaf, aku tak bermaksud berkata kasar.”Perjalanan terasa sangat membosankan, suasana di dalam mobil menjadi hening. Ketika ia sedang engah, aku memperhatikan wajahnya. Apa yang dikatakan kak Dira itu benar! Dia ayahku? Hidung, matanya yang besar. Tak begitu mirip denganku, mungkin kak Dira hanya mengarang.Beberapa jam kemudian, mobil sedan ini berhenti di depan sebuah gerbang rumah. Rumah yang sangat besar, pandanganku juga tersita pada rumah itu.“Ayo kita keluar,” bunga-bunga anggrek yang sedang bermekaran, seakan menyambut kedatanganku. Lelaki itu membawaku masuk ke dalam.
Nuansa seni terasa sekali di dalam rumahnya, lukisan-lukisan penari dari seluruh daerah di Indonesia tergantung rapi di setiap dinding. Juga terdapat patung-patung yang terbuat dari kertas koran, dan dicampur dengan batu bata yang dihancurkan.Aku menyisiri setiap ruangan yang ada di rumah ini, tapi dari tadi aku hanya melihat lukisan dan patung. Ada sebuah patung, mirip Patung David karya Michaelangelo. Tapi bedanya patung ini memakai baju dan bukan laki-laki. Patung ini mirip sekali dengan...“Kamu pasti tahu siapa patung itu.”“Aku... patung itu mirip wajahku.”Lagi-lagi ia hanya tertawa. Aku kesal sekali melihat pola hidupnya, rupanya ia menghabiskan waktu hanya untuk membuat patung dan melukis. Tapi apa semua ini ia yang mengerjakannya. Entahlah...“Apa bapak yang membuat lukisan dan patung ini?” aku mencoba bertanya, meski sedikit ragu dengan jawabannya.“Nggak semua! Aku dibantu oleh adik laki-lakiku.” Ia pun pergi dari hadapanku.“Tunggu! Aku ingin bertanya, apa bapak ayah saya?”Ia memutar kembali tubuhnya ke hadapanku, lalu kedua lengannya menepuk pundakku. Sedikit kuperhatikan rupanya ia senang sekali menepuk pundakku.“Ya. Saya memang ayah kamu. Kamu sudah tahu, jadi saya nggak usah menjelaskannya lagi.”Bapak itu hanya tersenyum, ia memberikan jawaban yang sebenarnya bukan jawaban seperti itu yang kumau. Aku nampak bingung sejenak, lalu ia memintaku untuk melanjutkan langkah ke ruang berikutnya.Ruangan itu nampak seperti kamar, seperti biasa banyak sekali lukisannya.“Ini kamarmu! Masuklah ke dalamnya,” aku tertegun. Lalu bapak yang sedari tadi belum kutahu namanya, pergi dari hadapanku menuju ruang belakang.Tiba-tiba seorang laki-laki berkepala botak masuk dalam ruangan, yang sekarang menjadi kamarku. “Kamu anaknya kak Rahmat yah! Selamat datang, aku adiknya.”“Rahman,” kataku lirih, ia adalah adiknya pak Rahmat. Kejutan apa lagi ini. Ia temanku sewaktu SMP yang sudah pindah sejak kelas dua, dan sejak itu tak ada kabar lagi. Aku juga harus tercengah oleh keadaannya sekarang. Ia menggunakan kursi roda, lalu di mana kedua kakinya.“Kakimu?” ia tersenyum, senyum yang mirip sekali dengan kakaknya pak Rahmat.“Aku telah kehilangan kedua kakiku. Dua tahun yang lalu kakiku terpaksa harus di amputasi setelah aku mengalami kecelakaan. Kedua tulang kakiku hancur. Sekarang kakiku hanya sampai dengkul saja. Dan hidupku sekarang bergantung pada kursi roda. Jangan ditanya bagaimana hancurnya aku saat itu.” Aku bisa merasakan pahitnya kehilangan sesuatu, tapi kenapa ia tak menunjukkan hal itu. Aku kehilangan ayah dan ibu bagaikan kehilangan kedua kakiku, tapi ia yang benar-benar sudah kehilangan kedua kakinya tetap tersenyum selebar itu.“Kenapa setelah kecelakaan itu, kamu nggak kasih kabar. Atau...”“Ketika itu aku malu, aku merasa tak ada satu orang pun menerima keadaanku sekarang. Mungkin teman-teman tak mau lagi berteman denganku. Tapi aku tahu, sekarang aku tak malu dengan kondisiku”“Apa? Picik sekali pikiranmu? Apa kamu pikir karena kamu duduk di kursi roda maka aku dan yang lain tak mau lagi berteman denganmu?”“Itu kan dulu, sudah jangan marah padaku. Aku senang ternyata kamu adalah keponakanku,” ujar Rahman pelan.“Memangnya aku ini anaknya yah?” balasku sedikit bertanya. Rahman hanya mengangkat kedua bahunya, ia sama anehnya dengan kakaknya. Apa mereka sudah ada perjanjian, jadi setiap aku bertanya tak lain hanya tersenyum.Tak berapa lama Rahman berlalu, aku segera berganti baju. Setelah berganti baju, aku membiarkan tubuhku terenyak di atas ranjang kayu, ranjang yang berukir batik.
Sejenak aku memejamkan mata, tapi mataku tak bisa menutup. Imajinasiku melayang ke sebuah harapan yang selalu kuinginkan, yaitu aku ingin ayah dan ibu kembali, dan sebuah harapan baru mengetahui siapa pak Rahmat. “Kalau benar ia ayahku...” anganku mengawang, tiba-tiba senyum sendiri.Pagi harinya cuaca sangat cerah sekali, aku berangkat ke sekolah. Sebuah sedan putih sudah bersiap mengantarkanku. Tetapi saat pulang sekolah cuaca kali ini berbeda dari sebelumnya, langit tampak gelap. Aku pulang sekolah lebih awal, jadi supir pak Rahmat tak menjemputku. Tak banyak orang berlalu lalang sekarang. Aku memandang ke atas dan samar mendengar suara petir. Aku tahu sebentar lagi akan turun hujan, tapi aku terus melangkah. Tak peduli kendala apa yang akan kulalui dalam perjalananku menuju rumah. Tak lama tubuhku pun diguyur hujan. Sementara orang-orang mencari tempat berlindung, aku terus berjalan, mencari angkutan umum.Akhirnya aku sampai ke rumah pak Rahmat, keadaan di sini sangat kering. Berbeda di daerah sekolahku.“Assalamualaikum!” ucapku lemas, rupanya air langit itu membuat tubuhku menggigil. “Waalaikumsalam, Ara. Kamu kehujanan, jangan pulang kalau masih hujan.” Pak Rahmat menjawab salamku, dan memintaku untuk segera mengganti baju yang basah.Setelah aku mengganti baju, ia membawakan segelas susu. “ Nggak usah repot-repot, aku bisa membuatnya sendiri.” “Nggak apa-apa. Ayah senang kok!” Ayah! Rasanya canggung sekali, aku mendengar kata itu darinya. Sesungguhnya ia orang yang sangat baik, walaupun aku baru mengenalnya. Tapi entah kenapa aku belum mau menyebutnya ayah, ia hanya orang asing dan mungkin akan menjadi asing untukku.“Istirahatlah.."Ia menutup pintu kamar, sambil tersenyum ramah. “Ayah, hahaha!” Aku tak pantas menerima bantuannya setelah apa yang kupikirkan tentangnya. Meski perlakuan bapak itu sangat baik, aku masih belum mengerti kenapa ia ayahku. Tiba-tiba aku teringat pada kak Dira, kalau aku anak pak Rahmat seharusnya kakak tinggal bersamaku juga. Dan pada perkataanya ia pernah berkata kalau ayahnya sudah mati, tapi ayahku belum.“Aku harus tahu kenapa kakak berkata seperti itu.”Senja terkapar menurun diganti malam bertabur bintang di sela-sela awan. Rasanya malam ini udara berbau manis dan segar, pasti asyik sekali jalan-jalan ke pantai ancol. Mendengar deburan ombak yang bernyanyi, juga suasana hening di tengah keramaian.Keesokan harinya, aku berniat untuk mengunjungi kak Dira. Sebelum itu aku juga harus berpamitan pada pak Rahmat. Setelah mendapat izin darinya, segera kulangkahkan kakiku untuk menemui kakak. Tadinya pak Rahmat meminta supirnya untuk mengantarkanku, tetapi aku menolak dengan alasan tentu saja tak mau merepotkan.Seorang wanita berdiri di halte, perawakannya mirip sekali dengan kak Dira. Semakin dekat kuperhatikan ternyata itu memang kakak. Rupanya ia sedang menunggu angkutan umum. “Kak Dira,” Ia sempat menolehkan tubuhnya, tapi ketika melihatku ia langsung mempercepat langkahnya dan pergi meninggalkan halte. Untungnya aku dapat mengejar kak Dira yang tak terlalu jauh, kuraih lengannya dan langkahnya pun terhenti.“Kakak tunggu, jangan pergi!” pekikku.Wajah kak Dira sangat lusuh, ia seperti kelelahan dan jarang tidur. Lingkar hitam di bawah matanya begitu terlihat. “Mau apa?” ucapnya pelan. Mobil dan motor di jalan raya sekonyong-konyong berhenti. Lampu merah! Pikirku. “Kakak, kalau pak Rahmat adalah ayahku bukankah itu juga ayahmu. Kenapa kakak nggak ikut tinggal bersamaku?” Kak Dira tertawa, tawa yang sangat keras. “Apa kamu pikir mereka adalah orangtuaku...” Aku terdiam, apa yang dikatakannya aku benar-benar tak mengerti. Mereka! Apa yang kakak maksud adalah ibu dan pak Rahmat. Sejenak aku berpikir, mungkinkah ibu dan pak Rahmat bukan orangtuanya. “Apa ibu dan pak Rahmat bukan orang tuamu.” “Yeah!” “Lalu, kalau bukan ibu dan ayah atau pak Rahmat. Siapa orang tua kakak?” Lagi-lagi ia hanya tertawa. Tapi kali ini ia tak tertawa lepas, terlihat ada kesedihan yang disembunyikan.“Kedua orangtuaku tuna rungu, mereka menitipkanku pada ibu. Ayah yang kamu kenal adalah kakak laki-laki ibu, dan pak Rahmat itu hanya ayahmu bukan ayahku. Maka dari itu ibu teramat sayang padamu...”Aku menatap mata kak Dira. Nampak aku mencari kebohongan di mata kakak. Tidak ada, yang ada hanya kejujuran yang ada di matanya. Mataku berkaca-kaca. "Terima kasih," ucapku tersendat menahan haru. “Untuk apa?” aku menggeleng, dan pergi dari hadapan kak Dira. Hari ini udara terasa sejuk, matahari bersinar sangat terang. Berjalan di bawah panasnya terik matahari serasa berjalan di bawah pohon yang rindang.Sekarang hatiku tak lagi mencari dan bertanya...Aku tahu apa yang kakak rasakan selama ini, kenapa ia begitu iri padaku. Ia bukan orang yang jahat, ia memperkenalkanku pada ayah secara tiba-tiba. Hanya saja ia ingin melihat kehidupanku bahagia. Kalau aku terus tetap tinggal bersamanya, aku makin terpuruk karena bayang-bayang ibu semakin menghantui otakku. Dan aku juga tak pernah tahu siapa ayahku sesungguhnya.Tanpa terasa aku berjalan cukup jauh, sampai-sampai aku tak mengenal waktu. Kulihat mega di langit sudah bermunculan sangat tebal. Meski senja sudah menghadang di barat, matahari mulai menatap nanar. Namun sinarnya masih ingin tetap menyentuh bumi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar