Sabtu, 20 November 2010

10 Pemantik Rokok Terunik di Dunia

Rokok dan pemantik rokok telah menjadi bagian dari budaya Amerika dan dunia selama beberapa dekade. Jadi bisa dipahami bahwa sesuatu yangbesar untuk masyarakat ini akanunik & aneh. Pemantik ini tidak dapatanda lihat setiap hari dan mereka pasti akan membuat Anda teringat
1. Fire Extinguisher 

Sekarang, bukan memadamkan api, pemadam kebakaran ini menciptakan mereka. Yang jujur saya pikir cara yang lebih keren dan jauh lebih menyenangkan. Meskipun tidak efektif jika Anda berusaha untuk memadamkan api. Miniatur alat pemadam kebakaran ini adalah yang unik dan mudah digunakan. Benar-benar membuat aku tersenyum setiap kali aku melihatnya.

Rokok dan pemantik rokok telah menjadi bagian dari budaya Amerika dan dunia selama beberapa dekade. Jadi bisa dipahami bahwa sesuatu yangbesar untuk masyarakat ini akanunik & aneh. Pemantik ini tidak dapatanda lihat setiap hari dan mereka pasti akan membuat Anda teringat.
Cellphone 

Ini adalah salah satu yang saat ini tidak tersedia di AS dan Eropa. Why? Yah itu karena itu adalah sebenarnya yg terbaik! Secara pribadi saya tidak yakin saya ingin pemantik rokok sebagai bagian dari ponsel saya, tapi pada saat yang sama tampaknya sepertinya sangat keren.
Korek Api 

Mungkin ini terlihat seperti korek api biasa, tetapi “korek” ini dapat mengeluarkan cahaya merah yg unik saat diaktifkan. memakai ini dapat membuat orang2 disekitar anda tercengang-cengang.
Biskuit 

Aku tidak yakin apakah memiliki pemantik yang membuat Anda lapar adalah ide terbaik di dunia tapi yang satu ini jelas membuat saya tersenyum. Aku juga menyukai kenyataan bahwa ia tampak seperti keychain normal sehingga Anda dapat benar-benar terkejut ketika Anda tiba-tiba orang-orang menggunakannya sebagai pemantik. Meskipun Anda mungkin harus khawatir tentang di mana Anda meninggalkannya karena seseorang mungkin ingin mengambil menggigit itu.
Rubber Ducky

Rubber Ducky membuat mandi begitu menyenangkan! Yah ini hanya menyenangkan di bak mandi jika Anda ingin merokok di dalam bak mandi. Apa yang mengganggu saya tentang pemantik ini adalah bahwa hal itu terlalu manis untuk menjadi pemantik dan saya bisa melihat beberapa anak kecil ingin bermain dengan itu dan mendapatkan kejutan buruk. Tapi jika Anda mencari pemantik yang hanya sedikit berbeda dan menarik, maka ini pasti yang lebih ringan untuk Anda. Meskipun tidak berharap untuk terlihat terlalu macho ketika menggunakannya:ngakak
Lampu 

Aku tidak yakin apa yang menarik itu atau alasan di balik lampu ini. Aku akui itu adalah sedikit unik dan cukup lucu untuk dilihat. Tapi aku tidak bisa membayangkan orang serius menempatkan ini untuk setiap jenis penggunaan realistis. Bisakah Anda bayangkan bersiap-siap untuk menyalakan rokok dan Anda mengeluarkan miniatur lampu dan kemudian tarik rantai dan cahaya rokok Anda? Bahkan jika teman-teman anda tertawa terbahak-bahak, dalam hati mereka menginginkannya.
Jari Tengah

Ini yang benar-benar membuat saya tertawa dan pada saat yang sama membuat saya berpikir bahwa hanya tipe tertentu orang akan benar-benar menggunakan pemantik seperti ini. Meskipun tampilan pemantik ini tidak baik, tapi benar-benar unik & Berkomunikasi! tapi jangan mengharapkan orang untuk melihat Anda sebagai orang yang berkelas jika Anda menarik ini dari saku Anda.
Kamera 

Kamera ini tidak benar-benar mengambil gambar tetapi menyala. untuk hal yang baru, ia memiliki jumlah detail mengejutkan. Sekali lagi aku tidak yakin bahwa pemantik ini akan datang ke penggunaan praktis tapi tak seorang pun pernah mengharapkan hal-hal baru pemantik untuk penggunaan rutin. Yang satu ini walaupun, akan menjadi besar untuk fotografer karena menunjukkan betapa dipersembahkan mereka dapat kerajinan mereka, mereka bahkan tidak dapat menyalakan rokok tanpa kamera di tangan mereka. NB: jgn isengin temen pake ginian, dibilang kamera mini, bisa membuat rambut teman anda rontok :ngakak
Toilet 

Sekarang aku tahu bahwa toilet humor benar-benar menarik bagi berbagai orang, tapi aku harus berpikir bahwa ini orang pergi sedikit terlalu jauh. Setelah semua orang yang dapat benar-benar mengatakan bahwa mereka menyukai gagasan tentang toilet? Belum lagi ide api yang keluar dari toilet harus cukup untuk memberikan seseorang mimpi buruk. Tapi aku akan mengatakan bahwa ini adalah salah satu pemantik yang akan mengubah kepala dan bahkan mungkin menyebabkan beberapa orang untuk memiliki mulut pispot.
Telepon

Jika Anda ingin menjadi sedikit kuno mungkin ini yang lebih ringan untuk Anda. Bergaya rotary lama setelah telepon ringan ini sangat unik dan Anda mungkin mengalami kesulitan mencari tahu bagaimana. Saya juga bertanya-tanya betapa mudahnya untuk digunakan karena tidak tampak semua yang sederhana.

10 HP Tercanggih Di Dunia

1.nokia 888 communicator
handphone dengan konsep futuristic yang menggunakan baterai liquid(cairan).
2. nokia Aeon
3.Sky “Sleak & Slim”
handphone yg diproduksi oleh SKY memiliki touchpad yang bersinar dan “hidden-key”
4.Benq-Siemens “Snaked”
model “reptile” yang di desain khusus untuk wanita yg hobby berolahraga dengan teknologinya yang mudah mengikuti bentuk tubuh manusia.namun hampir sama dengan yang di atas
5.What u see is what u get concept
konsep ini tidak lagi menggunakan LCD seperti digital camera, tetapi menggunakan frame yang transparan sebagai kamera.
6.retroxis
7.Benq-Siemens “The Black Box”
8. nec tag
memiliki konsep yang mirip dengan “the snaked”
9.triple watch
10.Asus Aura

DUA PILIHAN

Ia teman yang menyenangkan. Dari pandang pertama saja aku sudah bisa tahu hal itu. Orang biasanya mudah dikenali dengan tatap matanya. Matanya penuh permainan. Aku suka permainan.
"Jika kau diberitahu bahwa kau besok akan mati bagaimana?"
SMS itu kuterima larut malam. Entah apa yang ada di pikirannya, padahal tadinya aku mengirim SMS berita kematian seorang budayawan. Lama aku berpikir mencari jawaban. Aku tidak ingin kelihatan tolol dengan jawaban konyol. Mungkin temanku itu yang akan kuberi tahu dulu kabar kematian ini, melalui SMS tentu saja. Aku akan pamitan dan berharap bisa berteman di alam kubur. Atau, aku akan mendatanginya dan bercerita apa saja. Ya, seperti perbicangan di sudut warung kopi. Sambil menyerutup espresso atau cappucino. Dan begitu ajal datang, darahku penuh kafein.  Pada akhirnya, justru SMS tolol yang kukirim.
"Aku akan bilang pada si pembawa pesan, aku tak percaya. Tuhan biasanya tidak seperti ini. Kalau kamu?"
Aku tak percaya ada prosedur pemberitahuan dulu sebelum datangnya malaikat pencabut hayat, dan ini jawaban paling masuk akal. Aku tidak ingin kelihatan bodoh. Aku juga tak ingin dia tahu aku sedang memikirkan keganjilannya. Cukup lama ia menjawab.
"Aku akan bercinta dan mati di pelukan kekasihku."
Romantis. Ia mengutipnya dari film Almodovar. Perempuan ini gila film. Kadang aku menemaninya menonton, entah di gedung bioskop, entah di pusat kebudayaan, entah cuma berdua memutar DVD di kamarnya. Pertemanan ini gegap gempita dengan setumpuk skenario. Plotnya bermacam-macam. Aku suka skenario berakhir ceria, ia suka duka di ujung cerita.
Aku ingat saat kami menonton Unbearable Lightness of Being, kami tiduran di ranjang. Film yang diambil dari karya Milan Kundera ini memicu hormon lain. Tapi dia kan teman? Teman harus mampu mengendalikan hormon, pikirku. Ia memang teman yang menyenangkan, namun mungkin bisa juga kekasih yang menceriakan, sisi otakku yang lain angkat bicara.
"Kau yakin mencintaiku?"
"Yakin."
"Rumus kimianya berbeda dengan pertemanan."
"Memangnya rumusnya seperti apa? Aku lebih suka fisika. Mekanis saja."
Ia mengerling. Itu bukan kerlingan teman. Sesungguhnya ini pengkhianatan. Ia telah punya kekasih di luar kota sana. Seorang lelaki yang yang ia beri cinta pada pandang pertama. Ia tidak bisa memutuskannya. Cinta pada pandang pertama adalah tanda-tanda cinta yang sesungguhnya. Jelasnya, aku menjadi lelaki nomor dua. Pengkhianatan tidak selamanya menjadi bencana seperti di film-film itu, pikirku. Lagi pula, aku suka cerita dengan akhir bahagia.
Aku seperti lelaki yang memuja sesuatu yang hampa dan aku tidak menganggapnya sia-sia. Lagi pula  dugaanku memang benar, ia kekasih yang menceriakan. Hari-hari berjalan dengan jalan cerita yang sudah salin rupa. Lebih indah dari semula. Kecuali, tentu saja, ketika kekasih luar kotanya itu sedang berkunjung.
Kadang aku terpikirkan mendatangi kekasihnya yang satu itu dan menyodorkan suatu tawaran. Aku menjadi sang kekasih dan dia yang menjadi teman. Ia yang bertugas mendengar keluh kesahnya, dan aku yang akan bercinta di ujung hidupnya. Akan tetapi nyaliku tidak seperkasa itu.
Hal ini malah mengingatkanku pada apa yang dialaminya. Lelaki itu mungkin  menyimpan rindunya rapat-rapat. Dibungkusnya di bawah bantal dan memeluknya di pembaringan selagi tidur serta mimpi bercinta habis-habisan. Lalu, apakah ia masih akan bisa memeluk kencang rindu itu jika yang terjadi adalah pengkhianatan?
Di sini, rindunya itu berjejal dengan rinduku. Rindu yang juga kubungkus di bawah bantal. Kadang kupintal lembar demi lembar seperti kerinduan seorang teman. Lain waktu kulipat rapi menjadi bingkisan roman picisan dari kisah pengkhianatan.  Hidupku cukup sentosa dengan batas bias kekasih dan teman ini. Pintalan dan lipatan.
Cinta memberi aku sayap untuk terbang, berwisata di anjungan awan, tertawa riang di pucuk menara, dan anjangsana keliling kota. Tapi sayap itu kadang hanya bisa kepak-kepak di bumi. Kepak-kepak ayam yang hanya bisa menerbangkan debu. Seperti juga ayam, aku mengalami rabun senja. Tidak buta seutuhnya. Rabun cuma mengaburkan.
Suatu hari, ketika rabunku kumat, aku menemukan dia sedang menangis. Ia  indah saat meneteskan air mata. Keindahan rinai gerimis yang tepat berada di pelukan. Tak perlu mantel karena aku suka basahnya.
"Kau pikir mudah punya dua kekasih?"
"Aku justru selalu berpikir kau lah yang akan bermasalah. Aku tak  bisa seperti kau. Dadaku tak cukup untuk menampung dua perasaan yang mendebarkan dalam satu masa sekaligus."
"Setiap bersama kau, aku ingat dia. Setiap bersama dia, aku ingat kau."
"Lalu bagaimana?"
Tak ada aturan baku yang berlaku saat berhubungan dengan perasaan. Ketika aku mengirim kabar perpisahan, itu pun mendatangkan tangis. Aku pikir perpisahan akan memudahkan, dan tidak membuatku melihat airmata lagi. H2O terurai menjadi hidrogen dan oksigen. Itu rumus kimianya. Tapi aku lupa, ia pernah berkata bahwa rumus kimianya berbeda. Ini juga bukan pelajaran aritmatika atau aljabar. Dari sisi geometri, sudut berbeda menghasilkan lintasan koordinat beriring yang tak sama. Ia menangis lagi dan tak memiliki rumus yang sama dengan pembicaraan yang dulu. Ia menangis dengan bahasa geometri.
"Mencintai dan menjaga hubungan itu berbeda."
Aku diam. Aku merasa tak berhak angkat bicara. Diam yang emas.  Ia tersenyum seperti mendapat sebongkah emas. Aku ingin dia bahagia dan bisa tersenyum seperti itu selamanya. Kata "selamanya" menjadi kata favorit orang yang sedang jatuh cinta, bukan? Kata ini sejajar dengan kata-kata basi lain yang sering digunakan pembuat lirik lagu populer. Kata-kata yang sejamak dengan senyum dan tidak ada seorang pun di dunia yang bisa tersenyum selamanya, bahkan orang gila sekali pun. Jadi apa gunanya selamanya jika kemudian menyadari apa yang terjadi ternyata fana?
"Bukankah kau akan lebih mudah? Kau cukup mencintai satu orang. Kau tak perlu lagi menangis."
"Andai semudah itu. Bagaimana jika kau bisa memilih, pernah merasakan yang enak lalu tidak sama sekali atau tidak pernah merasakan enak sama sekali?"
Sebenarnya aku tak suka dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Sayangnya, ia suka melontarkannya dan aku tidak memiliki keberanian menggantung pertanyaan tanpa jawaban.
"Tidak merasa enak sama sekali, karena kepahitan akan terasa manis jika belum mengenal apa rasa manis yang sesungguhnya."
"Akan tetapi kenyataan tak seperti itu."
Ini permainan logika sederhana gaya Aristoteles, sementara dia lebih suka menempuh lajur lain. Ada wilayah lain yang mengesampingkan logika dan memberi kesempatan detak jantung untuk mengambil keputusan. Ia mendekonstruksi senyumnya. Ia mungkin sedang memilah dunia menjadi dua. Yang satu absolut, yang satu maya. Kehidupan nyata dan tiruannya. Mimesis, kata Plato.
"Bagaimana jika kita sepakat untuk putus tiap hari?"
"Maksudmu?"
"Ya, kita putus tiap hari."
"Aku tak paham."
"Saat kau pulang nanti, kita putus. Tapi saat ketemu lagi, kita masih bersama."
Ide aneh tapi kuterima juga. Aku menyukai suasana ketika berdebar-debar itu dan sebenarnya masih tak rela membuangnya begitu saja. Bisa kutulis 100 lembar puisi cengeng jika itu sedang terjadi. Puisi dengan diksi yang itu-itu juga, penuh kata-kata basi. Kuulang dan kuulang. Dibaca berulang kali. Berdebar lagi. Ketika waktu dihitung dengan debar jantung, jarum jam tak berguna sama sekali. Dan aku percaya, ketika Einstein menemukan teori relativitas waktu, ia sedang jatuh cinta. Lalu ia menautkannya dengan kumpulan rumus-rumus. Pemuja fisika  tidak akan sudi bertaruh emosi tanpa pembenaran logika yang pasti.
Kami masih sering bertemu. Entah bagi dia, tapi tak ada bedanya dengan semula. Saat aku pulang, tidak ada perasaan bahwa itu sebuah perpisahan. Aku bersenandung riang sepanjang jalan pulang. Hitam malam justru memperjelas otakku yang merah jambu. Malam bukan lubang hitam yang bisa menyerap segalanya. Sampai suatu malam aku bertemu kekasihnya yang dari luar kota.
Itu bukan  perjumpaan dalam arti nyata. Ia datang di mimpiku. Kami berbincang tentang perempuan yang menyenangkan itu. Ia bicara dengan datar, seperti memainkan gitar dengan chord yang selalu sama. Aku sadar mengapa ia bisa menjadi kekasih yang sesungguhnya. Ia bisa mengubah dirinya menjadi halusinasi. Hal ini mengingatkan aku pada perempuan itu saat menceritakan tentang dia. Matanya akan berbinar-binar, seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan. Ia akan bercerita, bercerita, dan terus bercerita.
Cerita-cerita yang menyiksa, yang membuatku kembali menjadi teman biasa. Ia memang  teman yang menyenangkan, tapi tidak saat seperti ini. Saat aku tak rabun sama sekali.
Matanya penuh permainan, dan mataku seperti dipermainkan. Dari lagu bertempo adagio menjadi alegro. Ia bisa merabunkan sekaligus membelalakkan mataku. Akan tetapi semua terus sama. Tidak ada jaring laba-laba yang kasat mata oleh mangsanya. Tapi dia bukan laba-laba dan aku juga bukan nyamuk.
"Kau sadar tidak?"
Aku menatap sekelilingku. Di kafe ini tidak ada yang aneh. Kami duduk di sebelah meja pesohor sastra. Itu juga bukan hal yang aneh untuk disadari. Kafe merupakan tempat lumrah para pencari inspirasi, atau kencan seperti ini.
"Apa?" Aku menyerah mencari tahu.
"Dulu kita juga duduk di sini."
Ia tersenyum dan matanya berisi permainan. Aku tersenyum dan menyadari kami memesan menu yang sama seperti dulu. Aku juga semakin menyadari bahwa kami, aku dan dia, adalah mangsa dari jaring laba-laba. Sejauh ini, laba-laba itu belum datang menikmati santapannya. ***

Kamis, 18 November 2010

KEHIDUPANKU BERUBAH



SEAKAN sudah jamak setiap hari menghirup udara Jakarta yang selalu bercampur debu tebal dan asap knalpot, ditambah panasnya terik matahari yang menyengat. Apalagi kondisi seperti ini terjadi setiap hari di ibukota, pedagang asongan dan peminta-minta berkeliaran di sepanjang sudut jalan kota. Udara di Jakarta Utara memang sangat berbeda dengan Jakarta lainnya. Maklumlah aku tinggal di daerah yang terkenal dengan banyak pantai, panas sudah menjadi hal biasa bagi penduduk di daerah pesisir.Terutama pada mobil-mobil besar pengangkut barang, atau biasa disebut dengan Container yang selalu ada di jalan raya. Pemandangan yang selalu kulihat setiap hari ketika berangkat dan pulang sekolah.Belakangan ini juga banyak peristiwa yang tak diduga-duga terjadi. Mulai dari berita peristiwa dalam negeri sampai mancanegara, yang menggemparkan. Dari dalam negeri sendiri adalah peristiwa yang baru-baru ini terjadi, yaitu amblasnya sebuah jalan raya menuju Ancol, Jakarta Utara. Sedangkan berita mancanegara adalah peristiwa 11.9 mirip sebuah judul buku tentang peristiwa, yang sudah lama ditulis oleh seorang penulis asal Jerman Mathias Brockers. Dan judul buku tersebut sama dengan tanggal, mengenai pembakaran Al-Qur’an, kitab suci agama Islam.

Suasana makin bergeming saat aku, Aura Aulia (Ara) gadis berusia 16 tahun sedang membaca berita-berita di koran. Aku tertegun, teringat kejadian yang menimpa ibu. Kecelakan naas itu terjadi ketika ibu (Alm Hanna) hendak pergi ke daerah Marunda, Jakarta Utara. Ibuku Hanna sedang berkunjung ke rumah pak Husein, seorang laki-laki paruh baya yang tak lain adalah kakek kandungku.Setelah berpamitan untuk pulang, ibuku ternyata mengalami kecelakaan. Ia tertabrak sebuah mobil besar pengangkut barang. Seluruh tubuhnya remuk, darahnya mengalir deras bahkan satu matanya hilang.Seluruh keluarga tak bisa membendung air mata. Terutama bagiku yang sangat dekat dengan ibu. Aku merasa tak punya semangat untuk hidup tanpa ibu, karena aku anak yang sangat manja dan penurut sehingga ibu sering kali tak membolehkanku untuk bermain terlalu jauh. Berbeda dengan kakak perempuanku Indira Imandara (Dira) ia agak sedikit pembangkang, dan selalu iri denganku. Meski peristiwa pahit itu sudah satu tahun berlalu, namun bagiku dan kak Indira kejadian itu baru terjadi kemarin. Kemarin sore, saat sinar dari barat mulai tertelan oleh datangnya malam. Sampai kapan pun peristiwa itu tak akan kulupakan dalam benakku. “Ibu! Ibu!” Aku berteriak-teriak memanggil ibu di dalam rumah. Seperti orang gila saja aku ini, rasanya sulit sekali mengendalikan emosi.Kak Indira yang mendengar suara isakan tangisanku, segera menghampiri. Mimik wajahnya terlihat kesal, wajahnya memancarkan aura tak menyenangkan. “Ibu sudah mati! Jadi jangan sebut-sebut namanya lagi.” kata kak Indira dengan suara menggelegar, seraya berlalu meninggalkanku.   Semenjak kematian ibu, sikap kak Indira padaku semakin semena-mena. Ia sering kali tak memberikan uang saku sekolah, padahal gajinya lebih dari cukup. Selain itu kak Indira, jarang sekali pulang ke rumah.Perlakuan kak Indira tak seperti layaknya seorang kakak kandung, semua pekerjaan rumah akulah yang mengerjakannya. Mulai dari mengepel rumah, menyapu, mencuci piring, mencuci baju, sampai membereskan kamar tidurnya pun harus aku. Terkadang kakak mempunyai panggilan khusus untukku, yaitu jibir-jibir (Teledor dan jorok).Sekarang aku bahkan tak memiliki perisai yang selalu ada di dekatku. Sebelumnya aku juga sempat tinggal dengan kakek, tapi kakek harus menutup usia. Ia meninggal karena faktor usia. Hidupku menjadi tak menentu, dulu tubuhku gemuk. Tapi sekarang aku nampak kurus.“Bereskan semua pakaianmu dan taruhlah ke dalam tas ini!” ia melempar sebuah tas berukuran besar, tas itu biasa aku pakai saat pulang kampung.“Untuk apa?” kataku menatap lurus ke mata kak Indira.“Jangan banyak tanya?!”Aku tak berani berontak, melihat matanya membesar rasanya tubuhku tak bisa berkutik lagi. Berapa menit berlalu, aku yang baru saja selesai memasukkan semua pakaianku ke dalam tas biru. Harus dikejutkan oleh kedatangan seorang lelaki tua bertubuh besar dan tinggi, wajahnya nampak begitu asing. Aku tak pernah melihatnya, tapi untuk apa ia datang ke rumah ini.“Kak Indira, siapa dia?” Tak ada kata yang terlontar dari mulutnya, dia hanya tersenyum. Tetapi aku melihat sebuah senyuman ketir diwajahnya, senyum yang menakutkan. Kakak langsung menarik lenganku, dan membawaku ke hadapan lelaki itu.“Ini dia...” Lekaki tua itu berhenti menghisap rokoknya. Ia bangkit sedikit meluruskan punggungnya, tanpa berkedip sedikit pun dari wajahku. Tubuh gemetar, rasa takut dan bayangan buruk terngiang-ngiang dalam benakku.Kepalaku tertunduk tak berani melihat matanya, lelaki itu menepuk pundakku. Ia terus menatapku, lalu tertawa. Aku tercengang jantungku berdetak kencang.“Gadis yang manis...”  aku tersentak, terkejut akan pernyataan itu. Kak Indira mendekatiku, dan membisikkan sesuatu“Kamu, akan tinggal bersamanya.”“Apa?” aku melepas genggaman tangan kak Indira. Berlari menuju kamar, tetapi ketika ingin menyentuh pintu kamar. Kakak menarik lenganku, aku berusaha mempertahankan tubuhku agar tak terbawa olehnya. Tapi yang terjadi tubuhku malah terjatuh, ia menjulurkan lengannya dan membangunkanku.“Dia ayahmu... jadi kamu harus tinggal dengannya. Hidupmu akan jauh lebih terjamin, kalau tetap tinggal bersamaku kamu akan jadi gila!” aku tak mengerti maksud perkataannya, mana mungkin dia ayahku. Yang aku tahu ayah sudah meninggal, empat tahun lalu.“Kakak bohong, pasti dia orang yang ingin membeliku. Kakak ingin menjualku, dan kakak juga tahu aku tak mau mengikuti orang asing. Sekarang kakak mengarang cerita, dengan mengatakan dia ayahku.” Hardikku, ini pertama kalinya aku berkata dengan nada meninggi.Sebuah tamparan nyaris menyentuh pipiku. “Ayahku sudah mati, tapi ayahmu belum.”Kak Dira menarik tanganku, tanpa menjelaskan perkataanya yang terakhir. Lelaki itu sudah berada di dalam mobilnya, aku semakin takut.“Masuk ke dalam mobil!” ucapnya pelan, lelaki di dalam mobil itu tersenyum lebar.“Kak!” kak Dira tak memperdulikanku, ia menutup pintu mobil. dan masuk ke dalam rumah untuk mengambil tasku yang sudah berisi pakaian.Sebelum mesin mobil sedan berwarna putih itu dinyalakan.


 Dari jendela mobil yang terbuka kak Indira menggenggam tanganku, matanya tak terlihat sebuah kebencian lagi. Supir lelaki itu, langsung menginjak pedal rem dan pergi dari rumah ibu. Aku enggan meninggalkan rumah yang menjadi kenangan manis bersama ibu dan tentu saja ayahku. Bagaimana mungkin kak Dira mengatakan kalau lelaki ini adalah ayahku.Langit makin mendung. Aku tak bisa berpikir jernih, aku merasa kakak adalah orang yang paling jahat. Ia pasti menjualku pada lelaki ini, kakak tak pernah sayang padaku.“Umurmu 16 tahun!”Aku mengangguk. Bulir-bilir air mata menetes di pipiku. Ia mencoba menghapus air mataku, tapi aku menghadangnya.“Jangan menangis. Wajah manismu tak terlihat lagi sekarang."“Memangnya kamu siapa, melarangku menangis. Ini kan airmataku sendiri. Aku nggak memintanya darimu kan?” ucapku kesal.Tiba-tiba lelaki itu tertawa. Ia terus tersenyum padaku, lagi-lagi aku hanya tertunduk.“Maaf, aku tak bermaksud berkata kasar.”Perjalanan terasa sangat membosankan, suasana di dalam mobil menjadi hening. Ketika ia sedang engah, aku memperhatikan wajahnya. Apa yang dikatakan kak Dira itu benar! Dia ayahku? Hidung, matanya yang besar. Tak begitu mirip denganku, mungkin kak Dira hanya mengarang.Beberapa jam kemudian, mobil sedan ini berhenti di depan sebuah gerbang rumah. Rumah yang sangat besar, pandanganku juga tersita pada rumah itu.“Ayo kita keluar,” bunga-bunga anggrek yang sedang bermekaran, seakan menyambut kedatanganku. Lelaki itu membawaku masuk ke dalam. 


Nuansa seni terasa sekali di dalam rumahnya, lukisan-lukisan penari dari seluruh daerah di Indonesia tergantung rapi di setiap dinding. Juga terdapat patung-patung yang terbuat dari kertas koran, dan dicampur dengan batu bata yang dihancurkan.Aku menyisiri setiap ruangan yang ada di rumah ini, tapi dari tadi aku hanya melihat lukisan dan patung. Ada sebuah patung, mirip Patung David karya Michaelangelo. Tapi bedanya patung ini memakai baju dan bukan laki-laki. Patung ini mirip sekali dengan...“Kamu pasti tahu siapa patung itu.”“Aku... patung itu mirip wajahku.”Lagi-lagi ia hanya tertawa. Aku kesal sekali melihat pola hidupnya, rupanya ia menghabiskan waktu hanya untuk membuat patung dan melukis. Tapi apa semua ini ia yang mengerjakannya. Entahlah...“Apa bapak yang membuat lukisan dan patung ini?” aku mencoba bertanya, meski sedikit ragu dengan jawabannya.“Nggak semua! Aku dibantu oleh adik laki-lakiku.” Ia pun pergi dari hadapanku.“Tunggu! Aku ingin bertanya, apa bapak ayah saya?”Ia memutar kembali tubuhnya ke hadapanku, lalu kedua lengannya menepuk pundakku. Sedikit kuperhatikan rupanya ia senang sekali menepuk pundakku.“Ya. Saya memang ayah kamu. Kamu sudah tahu, jadi saya nggak usah menjelaskannya lagi.”Bapak itu hanya tersenyum, ia memberikan jawaban yang sebenarnya bukan jawaban seperti itu yang kumau. Aku nampak bingung sejenak, lalu ia memintaku untuk melanjutkan langkah ke ruang berikutnya.Ruangan itu nampak seperti kamar, seperti biasa banyak sekali lukisannya.“Ini kamarmu! Masuklah ke dalamnya,” aku tertegun. Lalu bapak yang sedari tadi belum kutahu namanya, pergi dari hadapanku menuju ruang belakang.Tiba-tiba seorang laki-laki berkepala botak masuk dalam ruangan, yang sekarang menjadi kamarku. “Kamu anaknya kak Rahmat yah! Selamat datang, aku adiknya.”“Rahman,” kataku lirih, ia adalah adiknya pak Rahmat. Kejutan apa lagi ini. Ia temanku sewaktu SMP yang sudah pindah sejak kelas dua, dan sejak itu tak ada kabar lagi. Aku juga harus tercengah oleh keadaannya sekarang. Ia menggunakan kursi roda, lalu di mana kedua kakinya.“Kakimu?” ia tersenyum, senyum yang mirip sekali dengan kakaknya pak Rahmat.“Aku telah kehilangan kedua kakiku. Dua tahun yang lalu kakiku terpaksa harus di amputasi setelah aku mengalami kecelakaan. Kedua tulang kakiku hancur. Sekarang kakiku hanya sampai dengkul saja. Dan hidupku sekarang bergantung pada kursi roda. Jangan ditanya bagaimana hancurnya aku saat itu.”  Aku bisa merasakan pahitnya kehilangan sesuatu, tapi kenapa ia tak menunjukkan hal itu. Aku kehilangan ayah dan ibu bagaikan kehilangan kedua kakiku, tapi ia yang benar-benar sudah kehilangan kedua kakinya tetap tersenyum selebar itu.“Kenapa setelah kecelakaan itu, kamu nggak kasih kabar. Atau...”“Ketika itu aku malu, aku merasa tak ada satu orang pun menerima keadaanku sekarang. Mungkin teman-teman tak mau lagi berteman denganku. Tapi aku tahu, sekarang aku tak malu dengan kondisiku”“Apa? Picik sekali pikiranmu? Apa kamu pikir karena kamu duduk di kursi roda maka aku dan yang lain tak mau lagi berteman denganmu?”“Itu kan dulu, sudah jangan marah padaku. Aku senang ternyata kamu adalah keponakanku,” ujar Rahman pelan.“Memangnya aku ini anaknya yah?” balasku sedikit bertanya. Rahman hanya mengangkat kedua bahunya, ia sama anehnya dengan kakaknya. Apa mereka sudah ada perjanjian, jadi setiap aku bertanya tak lain hanya tersenyum.Tak berapa lama Rahman berlalu, aku segera berganti baju. Setelah berganti baju, aku membiarkan tubuhku terenyak di atas ranjang kayu, ranjang yang berukir batik.            


Sejenak aku memejamkan mata, tapi mataku tak bisa menutup. Imajinasiku melayang ke sebuah harapan yang selalu kuinginkan, yaitu aku ingin ayah dan ibu kembali, dan sebuah harapan baru mengetahui siapa pak Rahmat.            “Kalau benar ia ayahku...” anganku mengawang, tiba-tiba senyum sendiri.Pagi harinya cuaca sangat cerah sekali, aku berangkat ke sekolah. Sebuah sedan putih sudah bersiap mengantarkanku. Tetapi saat pulang sekolah cuaca kali ini berbeda dari sebelumnya, langit tampak gelap. Aku pulang sekolah lebih awal, jadi supir pak Rahmat tak menjemputku. Tak banyak orang berlalu lalang sekarang. Aku memandang ke atas dan samar mendengar suara petir. Aku tahu sebentar lagi akan turun hujan, tapi aku terus melangkah. Tak peduli kendala apa yang akan kulalui dalam perjalananku menuju rumah. Tak lama tubuhku pun diguyur hujan. Sementara orang-orang mencari tempat berlindung, aku terus berjalan, mencari angkutan umum.Akhirnya aku sampai ke rumah pak Rahmat, keadaan di sini sangat kering. Berbeda di daerah sekolahku.“Assalamualaikum!” ucapku lemas, rupanya air langit itu membuat tubuhku menggigil. “Waalaikumsalam, Ara. Kamu kehujanan, jangan pulang kalau masih hujan.”  Pak Rahmat menjawab salamku, dan memintaku untuk segera mengganti baju yang basah.Setelah aku mengganti baju, ia membawakan segelas susu. “ Nggak usah repot-repot, aku bisa membuatnya sendiri.” “Nggak apa-apa. Ayah senang kok!”  Ayah! Rasanya canggung sekali, aku mendengar kata itu darinya. Sesungguhnya ia orang yang sangat baik, walaupun aku baru mengenalnya. Tapi entah kenapa aku belum mau menyebutnya ayah, ia hanya orang asing dan mungkin akan menjadi asing untukku.“Istirahatlah.."Ia menutup pintu kamar, sambil tersenyum ramah. “Ayah, hahaha!” Aku tak pantas menerima bantuannya setelah apa yang kupikirkan tentangnya. Meski perlakuan bapak itu sangat baik, aku masih belum mengerti kenapa ia ayahku. Tiba-tiba aku teringat pada kak Dira, kalau aku anak pak Rahmat seharusnya kakak tinggal bersamaku juga. Dan pada perkataanya ia pernah berkata kalau ayahnya sudah mati, tapi ayahku belum.“Aku harus tahu kenapa kakak berkata seperti itu.”Senja terkapar menurun diganti malam bertabur bintang di sela-sela  awan. Rasanya malam ini udara berbau manis dan segar, pasti asyik sekali jalan-jalan ke pantai ancol. Mendengar deburan ombak yang bernyanyi, juga suasana hening di tengah keramaian.Keesokan harinya, aku berniat untuk mengunjungi kak Dira. Sebelum itu aku juga harus berpamitan pada pak Rahmat. Setelah mendapat izin darinya, segera kulangkahkan kakiku untuk menemui kakak. Tadinya pak Rahmat meminta supirnya untuk mengantarkanku, tetapi aku menolak dengan alasan tentu saja tak mau merepotkan.Seorang wanita berdiri di halte, perawakannya mirip sekali dengan kak Dira. Semakin dekat kuperhatikan ternyata itu memang kakak. Rupanya ia sedang menunggu angkutan umum.            “Kak Dira,” Ia sempat menolehkan tubuhnya, tapi ketika melihatku ia langsung mempercepat langkahnya dan pergi meninggalkan halte. Untungnya aku dapat mengejar kak Dira yang tak terlalu jauh, kuraih lengannya dan langkahnya pun terhenti.“Kakak tunggu, jangan pergi!” pekikku.Wajah kak Dira sangat lusuh, ia seperti kelelahan dan jarang tidur. Lingkar hitam di bawah matanya begitu terlihat. “Mau apa?” ucapnya pelan. Mobil dan motor di jalan raya sekonyong-konyong berhenti. Lampu merah! Pikirku. “Kakak, kalau pak Rahmat adalah ayahku bukankah itu juga ayahmu. Kenapa kakak nggak ikut tinggal bersamaku?” Kak Dira tertawa, tawa yang sangat keras. “Apa kamu pikir mereka adalah orangtuaku...”  Aku terdiam, apa yang dikatakannya aku benar-benar tak mengerti. Mereka! Apa yang kakak maksud adalah ibu dan pak Rahmat. Sejenak aku berpikir, mungkinkah ibu dan pak Rahmat bukan orangtuanya.  “Apa ibu dan pak Rahmat bukan orang tuamu.” “Yeah!”            “Lalu, kalau bukan ibu dan ayah atau pak Rahmat. Siapa orang tua kakak?”            Lagi-lagi ia hanya tertawa. Tapi kali ini ia tak tertawa lepas, terlihat ada kesedihan yang disembunyikan.“Kedua orangtuaku tuna rungu, mereka menitipkanku pada ibu. Ayah yang kamu kenal adalah kakak laki-laki ibu, dan pak Rahmat itu hanya ayahmu bukan ayahku. Maka dari itu ibu teramat sayang padamu...”Aku menatap mata kak Dira. Nampak aku mencari kebohongan di mata kakak. Tidak ada, yang ada hanya kejujuran yang ada di matanya. Mataku berkaca-kaca. "Terima kasih," ucapku tersendat menahan haru. “Untuk apa?” aku menggeleng, dan pergi dari hadapan kak Dira. Hari ini udara terasa sejuk, matahari bersinar sangat terang. Berjalan di bawah panasnya terik matahari serasa berjalan di bawah pohon yang rindang.Sekarang hatiku tak lagi mencari dan bertanya...Aku tahu apa yang kakak rasakan selama ini, kenapa ia begitu iri padaku. Ia bukan orang yang jahat, ia memperkenalkanku pada ayah secara tiba-tiba. Hanya saja ia ingin melihat kehidupanku bahagia. Kalau aku terus tetap tinggal bersamanya, aku makin terpuruk karena bayang-bayang ibu semakin menghantui otakku. Dan aku juga tak pernah tahu siapa ayahku sesungguhnya.Tanpa terasa aku berjalan cukup jauh, sampai-sampai aku tak mengenal waktu. Kulihat mega di langit sudah bermunculan sangat tebal. Meski senja sudah menghadang di barat, matahari mulai menatap nanar. Namun sinarnya masih ingin tetap menyentuh bumi.